Rabu, 28 Juli 2010

GAYA BELAJAR (RINA. S. NUGROHO, S. PSI)


Tulisan ini diilhami dari pengalaman saya saat mengajari anak-anak kecil berbahasa Inggris secara privat. Sebenarnya artikel ini pernah dimuat di beberapa majalah anak, buku-buku tentang psikologi anak, hanya saja saya tidak pernah mempelajarinya terlalu serius. Bahkan saya sempat berpikir …………… ‘Apa susahnya sih ngajarin anak ?’ Akhirnya tiba saatnya saya mengalami sendiri, memiliki anak dan menyekolahkan dia di sekolah TK, sampai mengisi waktu luang dengan membuka les privat Bahasa Inggris untuk anak-anak kecil….. dan pada akhirnya saya mulai belajar lebih serius mengenai masalah ‘Gaya Belajar Anak’.

Apa yang saya dapat setelah itu ? Ternyata dengan banyak membaca, praktek langsung, ……………. yang terbersit pertama kali dalam benak saya adalah ‘TERNYATA MENARIK DAN PENUH TANTANGAN JUGA YA MENJADI SEORANG GURU ITU ?’. Pertanyaannya, di mana letak menariknya dan letak tantangannya ? Menurut saya, salah satu hal yang membuat menarik pekerjaan seorang guru yakni terletak pada saat dia memutuskan dengan cara apa dia mampu membimbing anak tersebut belajar, dan pada akhirnya membuat anak tersebut menjadi suka belajar.

Kebanyakan orang yang tidak begitu mendalami masalah anak, mungkin akan berkata ………’Ya gampang aja, suruh dia duduk, ada meja, kursi, matikan televisi supaya dia tidak terganggu……… beres deh’. Ternyata tidak semudah itu lhooo….. ‘Tiap anak itu unik dan berbeda’, artinya, walaupun beberapa orang anak bisa lahir dari satu keluarga, tiap anak akan memiliki ciri lahiriah berbeda, dan tentu saja gaya belajar pun akan berbeda.

Anak adalah pribadi yang unik dan berbeda.
Tiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda antara satu dan yang lainnya.
Karenanya,……. Pendidikan yang akan diberikan harus disesuaikan dengan gaya belajar anak.

Coba kita simak pengalaman saya berikut ini. Suatu ketika saat saya mengajari murid saya berbahasa Inggris, tujuan dari modul yang saya ajarkan saat itu adalah agar mereka dapat mengucapkan beberapa aktivitas dalam bahasa Inggris seperti ‘hands up, hands down, go to the left, go to the right, shake your body dst’. Agar suasana menjadi gembira, saya mengajarkannya dengan menggunakan musik ‘groove’, mengucapkan kata-kata tersebut sambil melakukannya dalam bentuk tarian dan sambil menyanyi. Apa yang terjadi :

1. Tia, saat pertemuan berikutnya, tanpa harus belajar di rumah, saat datang ke tempat les, sudah dapat menyebutkan aktivitas tersebut dalam bahasa Inggris dengan lancar
2. Sofi, dapat menyebutkan dengan lancar setelah dua kali pertemuan
3. Laura, sampai 4 kali pertemuan, baru dapat mengucapkan dengan cukup lancar, bahkan kadang-kadang agak lupa.

Mengapa hal ini bisa terjadi ? Sekedar berbagi informasi, ternyata hal ini disebabkan karena gaya belajar tiap anak itu berbeda-beda :

1. Tia paling mudah menangkap pelajaran dengan melakukan gerakan-gerakan
2. Sofi, mudah menangkap pelajaran karena ada suara musik dan nyanyian
3. Laura, agak kesulitan menangkap pelajaran, karena dia tidak suka menari ataupun melakukan apapun dengan gerakan.

Setelah saya berbincang dengan ibu masing-masing anak dan beberapa guru di sekolah mereka, berikut komentar-komentar yang muncul :

1. Ibu dari Tia : ‘Emang tuh si Tia……kalau belajar, anaknya ga bisa duduk diem, lari sana, lari sini, pusing deh aku……’
2. Ibu dari Sofi : ‘ Sofi itu kalau sudah dengar lagu……..dia paling senang’
3. Ibu dari Laura : ‘Laura ga suka kalau nari, kalau dikasih lihat gambarnya, terus suruh ngapalin sih bisa….’
4. Guru 1 : Iya sih………… si Tia emang anaknya lebih aktif dari yang lain, ga bisa diem…….’

Apa ini artinya ? Sekedar berbagi informasi saja, ternyata, gaya atau tipe belajar anak itu berbeda-beda dan masing-masing tipe / gaya memiliki ciri-ciri tersendiri, yakni :

1. Tipe visual
Anak-anak jenis tipe ini lebih mudah menyerap pelajaran dengan cara melihat atau membaca.
Ciri-cirinya :
Lebih senang membaca sendiri daripada dibacakan orang lain
Lebih menyukai seni yang tidak berhubungan dengan musik
Lebih mudah mengingat sesuatu yang dilihat daripada didengar
Gemar membaca
Lebih mudah memahami bila diterangkan dengan gambar, film, tabel, peta dsj.


2. Tipe auditori
Anak-anak jenis tipe ini lebih mudah menyerap pelajaran dengan cara mendengarkan atau diterangkan secara lisan. Anak juga butuh mendengarkan sesuatu untuk membantunya belajar, seperti suara musik, suara TV dll.
Ciri-cirinya :
Senang berbicara / berdiskusi
Lebih menyukai musik dari seni lainnya
Lebih mudah mengingat apa yang diterangkan /didiskusikan dari apa yang dilihat
Senang membaca dengan bersuara atau menggerakkan bibirnya. Masalahnya, di sekolah ‘tradisional’, anak diharuskan membaca tanpa bersuara, bila bersuara, dianggap mengganggu.

3. Tipe kinestetik
Anak-anak jenis tipe ini lebih mudah menyukai belajar dengan cara menyentuh dan cenderung tidak dapat duduk tenang ketika belajar.
Ciri-cirinya :
Banyak bergerak dan tidak dapat diam di suatu tempat, bagi yang kurang memahami gaya belajar seperti ini, anak seringkali dianggap sangat mengganggu, bahkan cenderung diberi label‘hiperaktif’
Tidak bisa diam di tempat terlalu lama
Sulit mengingat sesuatu bila tidak pernah berada di sana
Lebih menyukai gerak tubuh
Di bidang seni, lebih menyukai seni tari.

Tipe / gaya belajar di atas hanyalah merupakan ‘kecenderungan’ saja. Bisa jadi seorang anak memiliki gaya belajar yang seimbang di antara ketiganya. Ada juga yang memiliki kombinasi 2 tipe seperti auditori kinestetik, visual auditori dll, hanya saja bila memiliki 2 kombinasi ini, biasanya salah satu tipe ada yang memiliki peran dominan dibanding tipe yang lain.
Nah, bagaimana dengan putra-putri Anda ? Semoga dengan berbagi informasi ini bisa membawa manfaat bagi Bapak / Ibu. Karena dengan memahami tipe belajar anak, kita akan lebih mudah membimbingnya belajar, dan pada akhirnya anak akan suka belajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar