Rabu, 28 Juli 2010

BIMBINGAN KONSELING ALIAS GCC


Jika mendengar atau membaca 2 kata ini ………. BIMBINGAN KONSELING, kira-2 apa ya yang ada di benak kita ? Dari sekian orang yang sempat diberi pertanyaan mengenai BIMBINGAN KONSELING, kebanyakan jawaban yang muncul a.l. :
1. Tempat mengatasi murid yang bermasalah
2. Tempat menghukum anak yang nakal dan bermasalah
3. Tempat konsultasi anak bermasalah
4. Dan beberapa jawaban lain yang bernada mirip.

Ya, begitu mendengar dan membaca tulisan BIMBINGAN KONSELING, biasanya citra yang terbentuk yaitu :
1. Sebagai polisi sekolah.
Contohnya, kalau ada murid yang mengobrol di kelas, guru langsung membawa anak tersebut ke ruangan BK
2. Semata-2 berfungsi sebagai pemberi nasihat belaka
Padahal yang mampu memberi nasihat, terutama bila untuk mengatasi murid yang mengobrol saja, tidak perlu BK, bener khan ?
3. Tugas terbatas pada masalah yang sifatnya insidental
Begitu selesai memberi nasihat, ya….tugas dianggap selesai
4. Tugas terbatas pada masalah yang ringan
Atau bahkan dianggap kurang kerjaan…..hmmmmmm……
5. Hanya melayani ‘orang sakit’ dan atau ‘kurang normal’
Ini yang sering terjadi, kita sedemikian mudahnya memberi cap (labeling) pada murid yang dianggap tidak mau menuruti guru dll
6. Hasil pekerjaan BK harus segera terlihat
Padahal, BK itu bukan tukang kayu loh……begitu memotong, mengasah kayu….jadi deh mejanya. Hal-hal yang ditangani BK itu materinya tidak berwujud benda, tapi materi-2 yang berhubungan dengan psiko-sosial-emosional, dan ‘meramunya’ juga tidak sama dengan kayu, perlu ada sedikit ‘polesan dan sentuhan’. Dan ‘meramu tiap individu itu berbeda-beda’. Ada yang dinasihati sedikit saja, udah manjur. Tetapi, ada juga individu yang tidak mau dinasihati, tapi dia lebih suka melihat (modeling). Nah, ini tantangannya…..
7. Usaha BK hanya terbatas pada penggunaan instrumentasi seperti tes, inventori dan kuesioner
Kadang ada juga para orang tua yang memaksakan anaknya untuk di-tes psikologi, semata-2 untuk memenuhi keinginan pribadi, tanpa tahu untuk apa sebenarnya tes psikologi itu digunakan
8. BK hanya bekerja sendiri, konselor yang aktif
Ini juga sering terjadi, padahal, jika ada ‘kejadian’, mestinya yang harus bekerja sama itu banyak pihak loh, ya konselornya, gurunya, termasuk juga orang tuanya. Ini supaya hasilnya bisa optimal.

Nah, koq bisa ya, citra BK seperti ini ? Banyak hal yang mempengaruhi, a.l. :
1. Aturan main di BK belum jelas
2. Guru BK banyak yang berfungsi sebagai guru pengganti atau guru piket
3. Hanya ditugasi sebagai POLISI SEKOLAH
4. Banyak pihak yang kurang paham dan kurang jelas akan fungsi BK
5. Tugas dan fungsi guru BK belum optimal
6. Kelirunya persepsi para personal sekolah akan tugas BK itu sendiri, sehingga tidak terjalin kerja sama.

Karena adanya wacana seperti ini, bagaimana dengan BK Al Azhar 15 Pamulang sendiri ? Mulai periode tahun ajaran 2010/2011 ini, BK ALPAM, mulai mengadakan beberapa perombakan di tubuh BK. Apa saja sih yang dirombak ?
1. Nama BK diberi nama lain menjadi GUIDANCE AND COUNSELING CENTRE (GCC ALPAM). BK sendiri tetap ada, hanya karena mendukung program sekolah yang ingin ‘bertaraf internasional’, BK juga sedikit ‘ go internasional juga’ he he he
2. Supaya lebih membahana, sekaligus memacu GCC untuk dapat memberi pelayanan yang terbaik buat customernya, GCC juga membuat Visi, Misi yang tentunya hal ini mendukung Visi dan Misi dari YPI Al Azhar Pusat juga
3. Karena yang diurusi GCC kebanyakan bersifat psiko-sosial dan emosional, GCC mempunyai motto

Serve From The Heart

untuk lebih mewujudkan visi dan misi yang sudah terbentuk

4. Hal-hal yang lebih disorot dalam pelaksanaan tugas GCC adalah lebih menitikberatkan pada ‘tugas-tugas perkembangan individu’. Pendek kata, pelaksanaan tugas GCC di kelas 1 berbeda dengan di kelas 2, berbeda dengan di kelas 3, 4, 5 dan 6. Karena apa ? Setiap tingkatan, mempunyai tugas perkembangan yang berbeda. Misalnya, karena gerakan motorik di kelas 1 masih belum semahir kakak-2 kelas 6, maka jenis pemberian edukasi di kelas 1, pasti berbeda dengan kelas 6.
5. Program-2 di periode 2010/2011 ini pun sudah mengalami pengayaan dan pengembangan.
Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di posting GCC yang judulnya : ………………………

Dengan demikian, supaya pelaksanaan program GCC terwujud, kerja sama dari berbagai pihak tentunya sangat diharapkan, baik dari individu peserta didik, ortu dan segenap personil sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar